Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 27 Mei 2017

Biodiversitas Indonesia bangun kawasan konservasi katak


Banjarmasin (ANTARA News) - Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia) bersama UPT Tahura Sultan Adam, Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan membangun kawasan habitat katak.
Konservasi katak
Hylarana picturata
Penggagas konservasi katak di Kalimantan Selatan sekaligus pendiri Biodiversitas Indonesia, Ferry F. Hoesain di Banjarmasin, Minggu mengatakan ekosistem terdiri dari berbagai komponen yang tersusun dengan sempurna, dan setiap komponen memiliki perannya sendiri-sendiri, termasuk dalam hal ini katak. 
Katak Indonesia
Hylarana chalconata
"Dari sini terlihat jelas peran katak dalam sebuah ekosistem sangatlah penting, ia juga merupakan pengendali populasi serangga berbahaya. Untuk Pelestarian katak dan habitatnya, kami berusaha menggandeng berbagai pihak terkait untuk membangun kawasan konservasi katak di Kalsel," katanya.
Foto katak dari genus Leptobrachium
Genus Leptobrachium 
Dia menjelaskan, belantara Kalimantan merupakan habitat utama bagi sejumlah spesies flora dan fauna, termasuk di dalamnya keragaman herpetofauna yang banyak di antaranya sangat langka, endemik, dan belum teridentifikasi. 

Ada sekitar 436 spesies amfibi yang hidup di Indonesia, dan 20 persen merupakan hewan endemik Indonesia, 178 jenis diantaranya dapat dijumpai di Kalimantan bahkan 73 persen endemik , dan 10 persen berada dalam risiko kepunahan karena perubahan dan hilangnya habitat, pencemaran, penyakit, dan faktor lainnya. 

Terdapat beberapa jenis katak langka dan unik yang ditemukan di hutan hujan Kalimantan. 

Seperti Katak Pelangi yang pada tahun 2010 pernah ditetapkan sebagai Top 10 Most Wanted Lost Frogs (Sepuluh Katak Langka Paling Dicari) oleh SSC IUCN global Spesialis Amfibi dan Conservation International. 

Katak pelangi ini terakhir pernah sekali terlihat pada tahun 1924. Hingga pada Juli 2011 ketika para peneliti menemukan kembali katak pelangi di pulau Kalimantan. 

Begitu juga tentang penemuan kembali katak unik dan Katak langka tanpa paru-paru yang hidup di hutan Kalimantan berhasil didokumentasikan di Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, Kalimantan Barat. 

Spesies bernama Barbourula kalimantanensis yang pernah dinyatakan punah pada 1978. 

Belum lagi salah satu spesies katak terkecil seperti Microhyla borneenis yang juga dapat dijumpai dikawasan Taman Hutan Raya Sultan Adam, Kalimantan Selatan, berdasarkan laporan hasil penelitian dari Pusat Sudi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia) yang dipimpin Ferry F.Hoesain pada Mei 2017.

Perubahan iklim, rusaknya habitat dan perburuan merupakan merupakan momok yang mendorong terjadinya kepunahan masal bahkan menjadi 100 kali lebih cepat, sementara informasi mengenai objek-objek yang dikonservasi tersebut minim. 

"Inilah yang dapat menyebabkan, spesies tersebut punah sebelum dipelajari atau bahkan ditemukan. Untuk itu perlu adanya upaya perlindungan bagi spesies-spesies hepertofauna yang ada, terlebih yang belum teridentifikasi dan terisolasi," jelas anggota tim peneliti katak dari Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia, Zainudin.

Untuk menjaga dan melestarikan keragaman jenis katak serta habitatnya, Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia akan membuat program perlindungan dan pelestarian kawasan habitat katak dilokasi tersebut bekerja sama dengan UPT Tahura Sultan Adam. 

Dimulai dengan kegiatan, sosialisasi dan edukasi, perbaikan habitat serta melakukan kegiatan patroli kawasan, mengingat habitat katak tersebut berada dekat dengan kegiatan ekowisata dan hutan pendidikan.

Saat ini Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia bersama Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan dalam hal ini UPT Tahura Sultan Adam sedang merencanakan membangun kerja sama perlindungan kawasan habitat katak, mengingat Tahura Sultan Adam memiliki cukup banyak keragaman jenis katak," kata Ketua Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia, Amalia Rezeki. 

Termasuk salah satu jenis katak terkecil seperti Microhyla borneensis, bahkan masih memungkinkan adanya spesies baru yang belum terungkap. Untuk itu kami masih terus melakukan penelitian katak di kawasan tersebut. 

Katak merupakan salah satu indikator biologis kerusakan lingkungan. Hilangnya populasi katak di sebuah ekosistem menjadi indikator sederhana kerusakan lingkungan. 

Taman Hutan Raya Sultan Adam sendiri secara geografis terletak didua kabupaten, yaitu kabupaten Banjar dan Tanah laut, Kalimantan Selatan yang luasnya sekitar 112.000 Ha dengan vegetasi tumbuhan khas hutan hujan tropika. 

Oleh karena itu, tambahnya, kawasan ini menjadi habitat alami herpetofauna yang bagus, khususnya berbagai jenis katak yang unik dan langka seperti Microhyla borneensis, Kalophrynus baluensis, Chaperina fusca, Amnirana nicobariensis, Metaphrynella sundana, Philautus auriasciatus, Megophrys montana, Huia masonii, Limnonectes leporinus, Pseudobufo subasper, dan masih banyak lagi yang bisa kita jumpai di kawasan tesebut.

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Rabu, 15 Maret 2017

Amphibian Field Ecology & Taxonomy Worksshop

Amphibian Field Ecology & Taxonomy Worksshop - Prof. Sathyabhama Das Biju - University of Delhi - 13-17 March 2017 ... Biodiversitas Indonesia - ULM mengirim peneliti mudanya Zainuddin.






Amalia Rezeki: Save Proboscis Monkeys, Save Everything!

In Borneo, the island with the oldest rain forests nicknamed the lungs of the world - endangered proboscis monkeys have just found their voice in a local, female ambassador. Gorillas had Dian Fossey, orangutans have Birute Galdikas, chimpanzees have Jane Goodall, and the forth largest primates, the proboscis monkeys, have Amalia Rezeki. 

The spokesperson for Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), the largest proboscis rehabilitation centre in the world, Amalia is fanatic in her efforts to reshape any false perceptions of the long-nosed monkey - through socialization and weekly appearances in the media. The proboscis monkey has now been made the mascot of her home city of Banjarmasin. Marking the end of the fanatic conservatism of the past, the city's only statue, glowing indigo by night, is a seven meter tall proboscis monkey that spits water into a river.

Amalia spends her days penetrating the shielded public sphere to leave a loaded message of the animals' importance behind in simple, every day language – barbed to be remembered. Quick to kill these great primates like pests, farmers should know that proboscis monkeys have almost no defences, are very timid, endangered, and easy to frighten off. They are also often burnt alive or orphaned in the slashing and burning of Borneo's 140-million-year-old forests for the sewing of cash crops - such as palm oil plantations. Often landowners would rather burn the evidence of endangered species, such as the proboscis monkey or the orangutan, rather than evacuate them.

SBI's campaigns are creative in combating rumours - that eating the monkey's meat will improve stamina, for example. There is also a small population believing a myth that especially evil Dutch colonialists were long ago transformed into proboscis monkeys (note that colonialists wore beige and had long noses, too) – and this kind of slander does not help their plight. It is clear that human ignorance, fantasy, coupled with the primates' own gentle nature, threatens the existence of these handsomely nautical herbivores.

Through the media, SBI's message had already reached the boardwalk community of Teluk Medung when the community discovered tens of proboscis monkeys living on the banks of their riverside settlement. When they contacted SBI for help, Amalia arrived to oversee the animals' relocation to the conservation island of Bakut. In Borneo's economy, to do the right thing - instead of following the usual profit motive – is a deed that should be rewarded. As such, Amalia often brings foreign volunteers from the wildlife rescue centre to spend time with the kids here in the village of Teluk Mendung. The children have met, sung with, been taught by, and received presents from French, German, and Canadian people - all as a result of their conscious decision to draw the line, and stand for the animals.

On the banks of the Barito River these kids await new visitors, ready with a repertoire of songs that Amalia herself has taught them. The time she has invested here is proof that she does not get ahead of herself, but sticks to a ground up approach – albeit under the ambitious slogan:
"Save the proboscis! Save everything!". - David Arthur


Mentri LHK Bersama SBI Lepas Liarkan Lola Amalia

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel)- Lola Amalia adalah nama seekor bekantan betina dewasa yang turut dilepas liarkan diantara empat ekor lainnya  oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya bersama-sama dengan Walikota Banjarmasin, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan,Ketua Sahabat Bekantan Indonesia dan Bupati Batola, serta disaksikan oleh Direktur Jenderal PPKL, Direktur Jenderal PDASHL, dan Direktur Jenderal PSLB3.


Nama Lola Amalia diberikan oleh ibu Siti Nurbaya sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Amalia Rezeki selaku ketua Sahabat Bekantan Indonesia, yang selama ini melakukan upaya penyelamatan bekantan di Kalimantan Selatan. Bekantan yang dilepasliarkan terdiri dari jantan dan betina,sebanyak empat ekor. Bekantan tersebut memiliki nama Lucky Boy (jantan usia 7 tahun), Mantuil (betina usia 3.5 tahun), Titik (betina usia 5 tahun), dan Lola Amalia (betina usia 5 tahun).
â€Å“ Saya sangat salut dan mengapresiasi bu Amalia Rezeki dari Sahabat Bekantan Indonesia yang telah berupaya membantu melestarikan bekantan di Kalimantan Selatan. Untuk itu salah satu bekantan betina yang akan kita lepas liarkan ini, saya beri nama â€Å“ Lola Amalia â€Å“, saya ambil dari nama Amalia Rezeki â€Å“, jelas ibu Siti Nurbaya ketika akan melakukan pelepas liaran bekantan tersebut.

Bekantan yang dilepasliarkan adalah merupakan hasil upaya penyelamatan (rescue) konflik satwa dengan masyarakat karena adanya alih fungsi  lahan,kebakaran hutan dan lahan serta hasil serahan masyarakat Sebelumnya, upaya penyelamatan Bekantan dilakukan oleh Tim Rescue Sahabat Bekantan Indonesia  bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan. 

Sementara itu Amalia Rezeki merasa terharu, atas pencapaian perjuangan Sahabat Bekantan Indonesia, yang selama 26 tahun sejak ditetapkannya sebagai maskot Kalimantan Selatan, baru sekarang mendapat perhatian khusus, baik dari pemerintah provinsi maupun sampai ketingkat kementrian, dengan ditandai kehadiran bu Mentri LHK pada acara puncak pelepas liaran bekantan di Pulau Bakut – Barito Kuala. 

â€Å“ Saya sangat terharu dan berterimakasih sekali kepada ibu Siti Nurbaya selaku Menteri LHK dan Jajaran Pemerintah Daerah serta semua stake holder didaerah sampai pusat, yang bersatu padu untuk menyelamatkan serta melestarikan bekantan yang keberadaannya terancam punah, terlebih bekantan adalah merupakan spesies kunci dan endemik Kalimantan â€Å“. Tutur Amalia Rezeki yang juga merupakan dosen pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat.

Selanjutnya menurut Amalia Rezeki, SBI selama tahun 2015 dan hingga  2017, sudah sekitar 27 kali  melakukan evakuasi bekantan. Sementara yang sudah dilepasliarkan berjumlah 20 ekor, yang sedang dirawat 7 ekor, serta tiga ekor tidak dapat tertolong akibat luka bakar yang cukup serius.Seperti diketahui, bekantan dilindungi berdasarkan Ordonansi Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 No 134 dan No 266 jo UU No 5 Tahun 1990. Berdasarkan lembaga konservasi Internasional, bekantan termasuk dalam daftar merah IUCN Bekantan dikategori terancam, dimana populasi satwa berada diambang kepunahan. 

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan pada tahun 1987 jumlah populasi bekantan di Pulau Kalimantan masih cukup banyak mencapai 250.000 ekor dan 25.000 ekor berada di kawasan konservasi (MacKinnon,1978). Kemudian menyusut drastis pada tahun 1995, hanya berjumlah sekitar 114.000 ekor dan hanya tersisa 7.500 ekor di kawasan konservasi (Bismark,1995). 

Sehingga dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir populasi bekantan di Pulau Kalimantan berkurang sekitar 50 persen. Sedangkan di Kalimantan Selatan melalui penelitian yang dilaksanakan tahun 2013 oleh BKSDA Kalsel hanya berjumlah sekitar 3.600 sampai lima ribu ekor, namun sekarang diperkirakan sudah tidak sampai 2500 ekor lagi.

Selasa, 10 Januari 2017

Kura-Kura Kepala Semangka Diambang Kepunahan

Tum-tum (Callagur borneoensis)
Tum-tum sebutan masyarakat Kalimantan Timur pada salah satu jenis kura-kura air Asia tenggara ini merupakan salah satu jenis kura-kura yang sedang terancam kepunahan, populasinya di habitat alami diyakini terus mengalami penurunan. Ekspor daging untuk dikonsumsi, ditangkap untuk menjadi hewan peliharaan hingga kerusakan habitat merupakan masalah krusial yang setidaknya dialami oleh jutaan ribu flora fauna dunia Termasuk Indonesia, dan masalah-masalah tersebut juga terjadi pada spesies eksotik ini. Jika tidak segera ditangani bukan tidak mungkin bahwa kedepan spesies ini tidak akan menghuni bumi lagi, hanya menyisakan foto, hasil peneltian atau bahkan awetan spesimen itu sendiri.

Tum-tum (Callagur borneoensis)
Individu Jantan Callagur borneoensis

Reptil yang termasuk kedalam genus Emydidae ini merupakan reptil eksotik yang umumnya mempunya persebaran di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam hingga Indonesia. Tum-tum atau tuntong laut mempunyai banyak panggilan di setiap daerah yang menjadi persebarannya, seperti di Sumatera orang menyebut hewan ini dengan nama tuntung, sedangkan mayarakat Kalimantan timur menyebutnya dengan istilah Kura-kura jidad merah dan dalam bahasa inggris disebut Painted Batagur, Painted Terrapin, Saw-jawed Terrapin, atau Three-striped Batagur. Selain itu hewan ini juga mempunyai banyak nama dalam istilah latin seperti Batagur borneoensis dan Emys borneoensis.
Callagur borneoensis saat musim kawan
Deskripsi spesies
Sesuai dengan namanya Three-striped Batagur, Tum-tum mempunyai 3 buah garis yang tersusun secara vertikal di atas karapaks/tempurungnya, umumnya pada betina corak garis tersebut agak memudar. Spesies ini termasuk kedalam jenis kura-kura full aquatic dimana ia lebih banyak menghabiskan hidupnya di dalam air dan hanya sesekali keluar kepermukaan air untuk berjemur (basking). Spesies ini menyukai habitat air payau berlumpur, sperti muara atau padang mangrove, ia banyak ditemukan di persisir pantai ketika musim bertelur antara bulan Juni hingga Agustus, atau pada bulan Oktober hingga Januari.


Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Reptilia
Ordo
Testudinae
Famili
Emydidae
Genus
Callagur
Spesies
Callagur borneoensis
Sumber
Schlegel and Muller, 1884









Biasanya dalam satu kali musim bertelur terdapat ± 20 ekor betina dalam satu garis pantai, karena sering ditemukan di laut spesies ini juga disebut dengan istilah Tuntong laut. Betina pada umumnya mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan pejantannya, namun dari segi warna pejantan lebih menarik daripada betina. Karapaks hewan ini dapat mencapai panjang 60 cm, bahkan pernah ditemukan spesimen yang mempunyai panjang karapaks berukuran 75 cm, individu betina dan jantan lebih mudah dibedakan ketika musim kawin, jantan akan mempunyai kepala berwarna putih dengan garis berwarna merah menyala dari ujung moncong hingga kebagian belakang kantung mata, selain itu karapaks jantan juga mempunyai lebih banyak corak berwarna hitam dengan warna dasar abu-abu, sedangkan betina mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dengan warna keseluruhan coklat ke abu-abuan. Dalam satu kali musim bertelur, hewan ini dapat menghasilkan 12-22 butir telur derukuran 68-76 x 36-44 mm yang diletakkan dalam sarang galian.
Tum-tum (Callagur borneoensis)
Kegiatan pemberian pakan Callagur borneoensis
Di Pusat Studi dan Konservasi Biodiversitas Indonesia
Sarang spesies ini lebih mudah untuk ditemukan, karena tidak seperti penyu hewan ini tidak membuat sarang pengecoh untuk melindungi sarang sebenarnya, oleh karena itu telurnya lebih mudah untuk ditemukan, hal ini merupakan salah satu faktor yang menjadi penyebab berkurangnya spesies tum-tum di alam bebas. Seperti kebanyakan jenis kura-kura lainnya, spesies ini juga menjadikan tumbuhan sebagai makanan utamanya, seperti buah mangrove, akar maupun daun magrove, namun sesekali mereka juga memakan beberapa jenis kerang dan udang-udangan. 

Status konservasi
Hingga saat ini jumlah tum-tum (Callagur borneoensis) di alam tidak diketahui secara pasti, namun diyakini terus mengalami penyusutan, eksploitasi habis habisan menyebabkan spesies ini terdesak hingga ke garis merah kepunahan, Malaysia dan Thailand penah tercatat melakukan ekspor besar-besaran spesies ini ke Cina, di akui bahwa pada tahun 2001 Thailand pernah mengimpor 100 spesimen spesies ini ke Cina untuk keperluan konsumsi, oleh karenanya sekarang di Thailand spesies ini sudah diambang kepunahan, selain dikonsumsi daging dan telurnya spesies ini juga banyak dperjual belikan sebagai binatang peliharaan eksotik (coba buka di akun-akun online penjualan hewan), selain itu kondisi habitat alamiah yang kian rusak dan terus berkurangnya pasokan pakan alamiah juga menjadi salah satu penyebab penurunan populasinya, penambangan pasir, pengembangan garis pantai, pembuatan bendungan hingga dinding laut atau dermaga juga mengambil andil dalam kasus penurunan populasi spesies ini.

Oleh karenanya Wildlife Conservation Society dan Turtle Conservation Coalition, memasukkan spesies ini kedalam Top 25 Endangered Tortoises and Freshwater Turtles (25 Penyu dan Kura-Kura Paling Terancam Punah). Sedangkan International Union for the Conservation of Nature (IUCN), memasukkan tum-tum (Callagur borneoensis) kedalam kategori Critically Endangered (terancam punah) karena di duga 80% spesiesnya telah mengalami penurunan selama 3 generasi terakhir, sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) memasukkan spesies ini kedalam daftar Apendiks II. Semantara itu Indonesia yang juga menjadi negara persebaran spesies ini telah melindungi hewan eksotik ini melalui PP. No. 7 Tahun 1999 dan Peraturan Menteri Kehutanan P.57/Menhut-II/2008. Di Indonesia spesies ini banyak dijumpai di perairan Kalimantan hingga Sumatera.


Pusat Rehabilitasi dan Konservasi Biodiversitas Indonesia  




Fakta menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara yang menjadi kawasan persebaran tum-tum (Callagur borneoensis) khususnya Kalimantan Selatan juga mengambil andil dalam permasalahan penurunan jumlah speises endemik ini, jika tidak segera dilakukan upaya rehabilitasi habitat dan spesies bukan tidak mungkin nantinya nasib kita akan serupa dengan Thailand, kehilangan salah satu kekayaan keanekaragaman hayatinya. Oleh karenanya Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia/ Biodiversitas Indonesia memasukkan spesies ini kedalam daftar spesies yang akan ditangkarkan, hingga saat ini BI telah berupaya melakukan proses Breeding  terhadap spesies langka tersebut, diharapkan dari kegiatan ini akan dihasilkan anakan-anakan tum-tum (Callagur borneoensis) yang nantinya dapat dikembalikan kehabitat alaminya, dan dapat menambah populasinya di alam.
Referensi
Alamendah. 2012. http://alamendah.org/2012/05/29/tuntong-laut-batagur-borneoensis-salah-satu-reptil-terlangka/. Viewed Desember 2014.
Anon. (2005). http://www.empireoftheturtle.com (Updated October 15th 2005). Viewed January 2006.
Asian Turtle Trade Working Group (2000a). Callagur borneoensis. In: IUCN (2004). 2004 IUCN Red List of Threatened Species. www.iucnredlist.org Viewed January 2006.
Asian Turtle Trade Working Group (2000b). Conclusions from the Workshop on Trade in Tortoises and Freshwater Turtles in Asia, Dec 1-4, 1999, Phnom Penh, Cambodia. http://www.traffic.org/turtles (In: AC20 Doc. 8.5 – p. 163 Callagur borneoensis. Viewed January 2006).
CITES (2004). Interpretation and Implementation of the Convention Species Trade and Conservation Issues. Conservation of and Trade in Tortoises and Freshwater Turtles CoP13 (CoP13 Doc. 33). (Thirteenth meeting of the Conference of the Parties Bangkok, Thailand, 2-14 October 2004).  http://www.cites.org/eng/cop/13/doc/E13-33.pdf Viewed January 2005.
Guntoro, Joko. 2014. Tracing the Footsteps of the Painted Terrapin (Batagur borneoensis) in the Aceh Tamiang Regency, Aceh, Indonesia.  Preliminary Observations. Radiata 21 (1) (2012).
IUCN (2004) 2004 IUCN Red List of Threatened Species, www.iucnredlist.org Viewed January 2006.
Turtle Conservation Fund (2003). The world’s top 25 most endangered Turtles http://www.conservation.org/ImageCache/news/content/press_5freleases/2003/may/turtle_5fkit/25turtprofiles0503_2epdf/v1/25turtprofiles0503.pdf    Viewed January 2006.

Selasa, 24 Maret 2015

Biodiversitas Indonesia Pertanyakan Konservasi Orangutan

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Lembaga pecinta lingkungan dan konservasi, Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia), melalui ketuanya Amalia Rezeki mempertanyakan konservasi orangutan di wilayah Kalimantan Selatan.
Orangutan Kalimantan
Pertanyaaan ditujukan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel dan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara, mengenai tindak lanjut atas surat usulan mengajukan permohonan untuk melakukan pengamanan kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan yang ditemukan Tim Ekspedisi Biodiversitas Indonesia pada 12 Mei 2014, kata Amalia Razeki di Banjarmasin, Senin.

Menurutnya dari hasil penemuan orangutan tersebut, Biodiversitas Indonesia pada 6 0ktober 2014 mengajukan usulan kepada Kementerian Kehutanan RI melalui BKSDA Kalsel, agar segera melakukan konservasi terhadap orangutan Kalimantan Selatan mengingat habitatnya saat ini sangat memprihatinkan.

Habitat orangutan terancam akibat semakin sedikitnya pohon tegakan sebagai rumah dan tempat beraktivitas orangutan. Di samping itu, habitatnya berada di kawasan hutan produksi konversi yang rentan bisa beralih fungsi, jelas Amalia Rezeki, yang juga dosen Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat.

Sebagaimana diketahui sebelumnya penemuan orangutan dari Tim Ekspedisi Biodiversitas Indonesia ini, telah mematahkan pendapat ilmiah yang menyatakan orangutan Borneo tidak pernah memiliki persebaran di wilayah Kalsel.

Sebab bukti ilmiah dan catatan sejarah mengatakan orangutan Borneo selama ini hanya memiliki persebaran di Sabah dan Serawak (Malaysia) dan tiga provinsi di Indonesia yaitu Kalteng, Kaltim, dan Kalbar.

Namun untuk spesies yang ditemukan di wilayah Kalsel ini, Biodiversitas Indonesia belum berani memastikan termasuk ke dalam subspesies yang mana, karena sampai saat ini tim Biodiversitas Indonesia belum mendapatkan sampel genetik untuk diadakan penelitian lebih lanjut.

Berdasarkan studi genetik, orangutan Borneo dikelompokkan menjadi 3 subspesies, yaitu Northwest Bornean Orangutan (Pongo pygmaeus pymaeus), sub-spesies ini ditemukan dikawasan Serawak (Malaysia) dan Kalimantan Barat Laut, Central Bornean Orangutan (pongo pymaeus wurmbii) yang dapat dijumpai di kawasan Kalimantan Tengah dan bagian Selatan dari Kalimantan Barat.

Sedangkan Sub-spesies Northeat Bornean orangutan (Pongo pygmaeus morio) bisa dijumpai di Kalimantan Timur. Secara fisik pongo pygmaeus wurmbii merupakan sub-spesies yang memiliki ukuran relatif besar, sedang pongo pygmaeus morio ukuran tubuhnya relatif paling kecil.

Dijelaskan pula oleh Amalia Rezeki, dalam rangka pembuktian keberadaan orangutan di Kalimantan Selatan, pihaknya mengundang lima orang volunteer dari beberapa negara. Kemudian pada hari Sabtu tanggal 4 Oktober 2014 pukul 16.45 wita, akhirnya Thomas Haley, mahasiswa S3 dari Inggris yang menjadi salah satu anggota volunteer, melihat serta sempat mengabadikan orangutan yang ditemukannya yang masuk dalam wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara.

Kontak langsung dengan orangutan ini menjadikan Thomas Haley sebagai orang asing yang pertama melihat dan membuktikan keberadaan orangutan yang telah dilaporkan sebelumnya oleh Tim Biodiversitas Indonesia.
Sementara itu pakar primata dan guru besar Universitas Lambung Mangkurat Prof Arief Soendjoto menyarankan perlunya upaya konservasi terhadap habitat orang utan tersebut.
"Apakah tetap di kawasan yang ada dengan mengubah status hutan dari hutan produksi menjadi hutan konservasi, atau melakukan relokasi di kawasan lagi," ujarnya.

Di sisi lain Ferry Husien, praktisi konservasi, sekaligus penemu orangutan Kalsel, menjelaskan orangutan merupakan sebagai species utama yang menjadi simbol untuk meningkatkan kesadaran konservasi serta menggalang partisipasi semua pihak dalam aksi konservasi.
Kelestarian orangutan juga menjamin kelestarian hutan yang menjadi habitatnya dan kelestarian lingkungan makhluk hidup lainnya.

"Untuk itu saya berharap ada upaya dari pemerintah daerah maupun pusat untuk bersungguh-sungguh melindungi temuan orangutan di Kalsel. Dengan menyediakan kawasan habitat orangutan yang cukup, baik dengan upaya relokasi maupun lokalisasi hutan tersebut menjadi kawasan konservasi orangutan Kalsel," jelasnya.

Ditulis oleh : Hasan Zainuddin

Kamis, 19 Februari 2015

STOP Perdagangan Primata

BANJARMASIN – Banyaknya penjualan ilegal untuk hewan primata seperti Kukang, Tarsius, Owa-Owa, Bekantan hingga Orangutan, menjadi isu hangat untuk Hari Primata yang diperingati setiap tanggal 30 Januari. Praktik penjualan hewan ini juga banyak terjadi di Kalimantan Selatan.
Kampanye Peringatan Hari Primata (Stop Perdagangan Primata)
Zainudin, Ketua Bidang Konservasi Biodiversitas Indonesia menjelaskan, primate trafficking terjadi di seluruh kawasan Indonesia yang seyogyanya mempunyai 40 jenis primata dimana 30% diantaranya khas Indonesia. Ditengarai salah satu pemasok bahan baku kegiatan tersebut adalah Kalsel.

“Praktik di daerah pemasok lebih parah lagi, meski tidak dilakukan secara terang-terangan jalur pedagangan satwa khususnya primata telah jelas pelanggan dan pembelinya, dari pasar tradisional hingga ranah media sosial menjadi jalur haram kegiatan ini, “ kata pemerhati primata Kalsel ini.
Daerah yang menjadi habitat bagi 5 primata tersebut kini merupakan tujuan potensial bagi para pemburu. Amuntai – HSS dan  Batu Tangga, Hantakan HST hingga Barito Kuala adalah daerah pemasok hewan hewan langka yang kemudian akan didistribusikan ke pasar satwa di KM 07 Kabupaten Banjar.
Ditegaskan Zainudin, alur haram ini perlu diatasi dengan lebih serius, peran pemerintah pusat maupun daerah selaku pemegang kepentingan sangat diperlukan dalam hal ini, pembuatan aturan untuk primate trafficking juga perlu direalisasikan, Jika tidak dapat memutus langsung setidaknya langkah ini dapat mengurangi kegiatan haram tersebut.
“Untuk itulah, pada momentum Hari Primata kami melakukan kampanye Stop Primate Trafficking, sebab dengan membeli primata liar berarti Anda memberikan kesempatan kembali bagi para pemburu untuk menjual.” tegas Zainudin.

sumber : http://www.radarbanjarmasin.co.id/banua2-2/5153-stop-primata-trafficking.html

Sabtu, 01 November 2014

Biodiversitas Indonesia Temukan Orangutan Kalimantan Selatan

Biodiversitas Indonesia - Setelah melalui proses perjalanan panjang, tim ekspedisi Biodiversitas Indonesia akhirnya bisa melacak keberadaan Orangutan (Pongo pygmaeus) di Kalimantan Selatan. Hasil temuan ini cukup mengejutkan lantaran selama ini diyakini Bornean Orangutan memang terdapat hampir disemua hutan dataran rendah pulau Kalimantan kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam misalnya seperti yang tertulis di artikel http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_utan (setidaknya sampai 1 November 2014).
Tim Ekspedisi
Basecamp Tim Ekspedisi Orang Utan Kalimantan Selatan
 
Ditemukannya Bornean Orangutan di Kalimantan Selatan oleh Tim Ekspedisi Biodiversitas Indonesia merupakan catatan sejarah baru dalam dunia Orang utan. Namun fakta ditemukannya Orangutan di Kalsel tidak semata-mata membawa kabar gembira, keprihatinan dan kekhawatiran terhadap bahaya serta ancaman terhadap salah satu primata terbesar ini membuat tim ekspedisi segera membentuk organisasi khusus perlindungan Orangutan khususnya yang berada di wilayah Kalsel. 


Penemuan Sarang Bornean Orangutan

Bornean Orangutan
Sarang Orangutan
The South Borneo Orangutan Care (SBOC) adalah organisasi sosial yang membantu pemerintah dalam upaya konservasi Orangutan, melalui berbagai program, termasuk perlindungan habitat, proyek rehabilitasi dan perawatan pusat primata yatim. Juga program konservasi dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, melobi berbagai Pemerintah dan bekerja dengan masyarakat setempat untuk meningkatkan dukungan dan pemahaman tentang orangutan.



Serunya Aksi Tanam Pohon, Untukmu Bekantan

Inilah beberapa dokumentasi serunya Aksi Tanam Pohon Untukmu Bekantan, yang tidak hanya di ikuti oleh relawan dari Indonesia tetapi juga oleh relawan dari beberapa negara di dunia. Kegiatan yang di usung oleh The Bekantan Twin Project ini didukung oleh BKSDA Kalsel dan Sahabat Bekantan Indonesia.  
Aksi Tanam Pohon Untukmu, Bekantan..
Penanaman Pohon Bakau di Pulau Bakut, Kalimantan Selatan, Indonesia

Aksi Sosial Penanaman Pohon di Pulau Bakut, Kalimantan Selatan 


Kamis, 24 April 2014

Sampah PKL Jembatan Barito Ancam Habitat Bekantan Pulau Bakut

Biodiversitas Indonesia - Meski telah dipasang rambu lalu-lintas dilarang berhenti disepanjang Jembatan Barito, nyatanya masih banyak masyarakat yang parkir di atas jembatan. Tidak hanya sepeda motor, bahkan mobilpun sering di jumpai, terlebih pada saat hari libur nasional seperti hari Minggu dan hari besar lainnya. Selain milik masyarakat yang memang ingin bersantai di atas jembatan, sebagian besar kendaraan yang terparkir ini adalah milik pengendara yang sengaja menyempatkan waktu untuk melihat pemandangan dan berfoto diatas jembatan.
Kegiatan Di Atas Jembatan Barito,
Termasuk Pedagang Kaki Lima (PKL) Foto
Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan para pedagang kaki lima (PKL) yang ingin mengais rezeki. Di area yang jelas terpampang rambu di larang Stop tersebut tampak berjejer penjual pentol, aneka minuman dingin serta penjual kue. Selain kerap membuat arus lalu-lintas di atas jembatan menjadi tersendat, ironisnya para pedagang dan pembeli kurang memperhatikan sampah bungkus makanan dan minuman yang mereka makan.
Duta Bekantan, Ambar Pertiwi
Bakti Sosial, Memungut Sampah di Area Konservasi Pulau Bakut
Duta Konservasi, Zainuddin
Bakti Sosial Memungut Sampah di area Pulau Bakut
Selain berserakan di jembatan, bungkus makanan dan minuman yang umumnya terbuat dari plastik sering kali dibuang ke sungai atau Pulau Bakut yang posisinya tepat berada di bawah jembatan. Padahal, pulau ini merupakan area kawasan konservasi bagi Bekantan (Nasalis larvatus) satwa endemik Kalimantan sekaligus maskot Provinsi Kalsel.

Menurut pantauan tim Biodiversitas Indonesia, sampah-sampah dari berbagai jenis seperti botol kaca, botol plastik, gelas plastik air mineral,serta  bungkus makanan dan minuman tampak berserakan di Pulau Bakut yang berada persis di bawah jembatan. Beberapa kantong plastik berisi sampah juga terlihat tersangkut di bagian sisi jembatan dan didahan-dahan pohon. Nampaknya, kantong-kantong plastik berisi sampah ini sengaja dibuang oleh oknum pedagang kaki lima dengan cara di lempar atau di masukan ke lubang pada sisi jembatan.

Keadaan ini tentu saja sangat memprihatinkan dan dapat mengancam kelestarian Bekantan yang ada di Pulau Bakut jika tidak segera ditindak lanjuti. Padahal perda tentang larangan membuang sampah sembarangan sanksinya jelas, yaitu denda mulai dari 250 ribu hingga 50 Juta atau kurungan penjara 7 hari hingga 6 bulan, terlebih jika di lakukan di area konservasi. Biodiversitas Indonesia berharap Pemerintah beserta pihak terkait bisa segera menemukan solusi dan jalan keluar untuk masalah ini sesegera mungkin (mj).





Minggu, 06 April 2014

Spesies Baru Kukang Kalimantan

Sedikitnya 3 jenis baru Kukang di temukan di Pulau Kalimantan. Ketiga spesies baru Kukang tersebut adalah Nycticebus kayanNycticebus  borneanus, dan Nycticebus bancanus. Sebelumnya Nycticebus  borneanus, dan Nycticebus bancanus masih di masukan kedalam jenis Nycticebus menagensis.
Kukang Kalimantan

Nycticebus kayan adalah spesies baru yang belum dikenali. Spesies ini ditemukan di tengah-timur dataran tinggi Kalimantan. Namanya diambil dari sungai setempat, Kayan, di Kalimantan Timur. Sedangkan Nycticebus bancanus bisa ditemukan di bagian barat daya Kalimantan yang dikenal memiliki kekhasan warna bulu, sementara Nycticebus  borneanus  hidup di bagian tengah selatan Kalimantan dengan ciri wajah gelap dan kontras. 

Tiga spesies baru  Kukang di Pulau Kalimantan ini di temukan oleh Ahli peneliti primata kukang Universitas Oxford Brookes, Profesor Ana Nekaris, melalui penelitian Deoxyribonucleic acid atau DNA kukang di Indonesia.

Selain  akan ditambahkan dalam daftar merah IUCN sebagai spesies yang terancam punah,", Kukang merupakan primata yang di lindungi oleh Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati, ancaman yang dijatuhkan adalah kurungan lima tahun penjara serta denda sebanyak Rp 100 juta.

Fakta Kukang Kalimantan (Nycticebus kayan)

Di balik penampilannya yang lucu dan imut Kukang ini ternyata merupakan primata yang memiliki racun mematikan. Gigitan beracun spesies Kukang yang baru saja ditemukan di Kalimantan ini dapat membunuh manusia.

Racun tersebut terdapat di kelenjar siku yang terhubung ke mulutnya. Saat terancam bahaya kukang ini mengambil racun ke dalam mulutnya dan mencampurnya dengan air liur. Racunnya menimbulkan anaphylactic shock berujung kematian jika tergigit.

Sumber : Antaranews

Jumat, 14 Maret 2014

Penangkaran kupu-Kupu Ali Muntahar, Berbisnis Tapi Peduli

Di tengah maraknya perburuan hewan di alam liar untuk di perjual belikan, Ali Muntahar mengambil langkah yang patut di acungi jempol. Sadar dengan pentingnya tetap menjaga kelestarian hewan cantik ini, Ali lantas berinisiatif mengembangkan penangkaran kupu-kupu untuk bahan kerajinan yang menjadi sumber penghasilan keluarganya saat ini.
koleksi kupu-kupu bantimurung
Kupu-kupu Bantimurung
Di belakang rumahnya di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan terdapat sebuah penangkaran yang mampu menampung ratusan ekor kupu-kupu yang terdiri dari sekitar 10 jenis. Indukan kupu-kupu di peroleh dengan menangkapnya di alam kemudian di tempatkan di penangkaran untuk selanjutnya dibiarkan melakukan perkawinan secara alami. Setelah bertelur indukan biasanya akan mati dengan sendirinya, kupu-kupu yang mati inilah yang digunakan Ali sebagai bahan pembuatan beragam cindera mata yang di jual dalam dan luar daerah, serta di sekitar kawasan Kawasan Taman Nasional Bantimurung.
kerajinan berbahan kupu-kupu
Contoh cinderamata dari kupu-kupu


Di Kabupaten Maros memang terdapat Kawasan Taman Nasional Bantimurung yang dikenal sebagai habitat kupu-kupu yang unik dan langka seperti Papilo androkles dan Papilo blumei. Tak heran Maros menetapkan hewan cantik ini sebagai maskot daerahnya.
Cindera mata kupu-kupu yang di pajang di sebuah cafe

Pemanfaatan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan perlu terus dikembangkan. Eksploitasi yang berlebihan justru akan mengancam kelestarian flora dan fauna yang akhirnya merugikan manusia itu sendiri. Mari berlaku bijak terhadap alam, stop pengrusakan hutan dan perburuan satwa liar. 

Kamis, 06 Maret 2014

Seminar Peringatan World Wildlife Day

Puluhan peserta yang mengikuti seminar "Pengenalan dan Pelatihan Konservasi Bekantan" tampak antusias menyimak berbagai materi dari penyaji. Kegiatan seminar yang di selenggarakan oleh Program Magister Pendidikan Biologi Unlam bekerjasama dengan Lembaga Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia) di gelar dalam rangka memperingati "Word Wildlife Day" yang jatuh pada tanggal 3 Maret lalu.

Pemateri dan Peserta seminar 


Ketua Program Magister Pendidikan Biologi Unlam Banjarmasin
Dr. H. M Zaini, M.Pd dan pemateri
 
Prof. Dr. Ir. H. M. Arief Soenjoto, M. Sc 

Seminar di buka langsung oleh Dr. H. M Zaini, M.Pd (Ketua program Magister Pendidikan Biologi Unlam) dengan pembicara Prof. Dr. Ir. H. M. Arief Soenjoto, M. Sc guru besar Fakultas Kehutanan Unlam yang juga peneliti dan pemerhati Bekantan di Kalsel.
jumlah seminar pelatihan
Peserta Seminar

Bertempat di ruang multimedia Pasca Sarjana Pendidikan Biologi Unlam Banjarmasin, kegiatan yang di helat Kamis (6/3/14) ini di hadiri peserta yang berasal dari berbagai kalangan di antaranya pelajar Sekolah Menengah Atas) Mahasiswa dan mahasiswi S1 serta S2 Unlam, komuntias Sahabat Bekantan Indonesia serta tidak ketinggalan Ambar Pertiwi  (Duta Bekantan) dan Zainuddin (Duta Konservasi).

Seminar dan pelatihan bekantan
Suasana Seminar Pengenalan dan Pelatihan Konservasi Bekantan
Dalam sambutannya Dr. H. M Zaini, M.Pd berharap pemerintah daerah bisa lebih tegas dalam menjaga dan mempertahankan habitat Bekantan dari ancaman alih fungsi. "Pemerintah harus tegas terhadap pengusaha yang akan melakukan kegiatan alih fungsi hutan yang menjadi habitat Bekantan, kalau tidak mereka akan semakin terancam" tegasnya.

Dalam pemamparan materinya Prof. Dr. Ir. H. M. Arief Soenjoto, M. Sc mengingatkan bahwa kawanan Bekantan yang berada di luar area konservasi jauh lebih berisiko dari kegiatan alih fungsi habitat sehingga harus terus di awasi. "Kawanan Bekantan yang tinggal di luar kawasan konservasi lebih berisiko dan harus mendapat perhatian" ujarnya.

Di tambahkan Arief saat ini ada banyak kawanan Bekantan yang berada di luar habitat alaminya dan perlu mendapat perhatian serius oleh pemerintah daerah untuk mempertahankan habitat yang ada atau merelokasinya.

Panitia pelaksana Amalia Rezeki menuturkan, seminar "Pengenalan dan Pelatihan Konservasi Bekantan" ini adalah langkah awal untuk melahirkan kader-kader baru untuk pelestarian Si Maskot. Rencananya seminar dengan materi dan pelatihan yang lebih detail akan kembali digelar dalam waktu dekat (mj).

Selasa, 04 Maret 2014

Sahabat Bekantan Sambangi BPost

Biodiversitas Indonesia - Sekitar pukul 11.00 Wita delapan perwakilan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) menyambangi Kantor Banjarmasin Post di Jl. AS Musafa, Selasa (4/4/14). Rombongan yang dipimpin langsung oleh Amalia Rezeki, Ketua Biodiversitas Indonesia ditemani oleh Ambar Pertiwi (duta bekantan) dan Zainuddin (duta konservasi) di terima langsung oleh pimpinan umum Harian Banjarmasin Post, H. Pangeran Rusdy Effendi. AR.
 
Audiensi Sahabat Bekantan ke Banjarmasin Post

Dalam kesempatan Audiensi tersebut Amalia Rezeki, Ketua Biodiversitas Indonesia menyampaikan rasa terimakasihnya secara khusus kepada H. Pangeran Rusdy Effendi. AR yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menerima rombongan Sahabat Bekantan Indonesia. Secara lebih spesifik Amalia menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka selain menjalin silaturahim juga untuk meminta dukungan untuk setiap kegiatan Komunitas Sahabat Bekantan dalam upaya memperjuangkan kelestarian serta mengangkat citra "Si Maskot" Kalimantan Selatan.
Sahabat Bekantan Indonesia
Ambar Pertiwi menyerahkan cinderamata untuk Bpost
H. Pangeran Rusdy Effendy AR mengapresiasi positif kedatangan rombongan dan berjanji akan mendukung penuh kegiatan Sahabat Bekantan dalam mensosialisasikan kelestarian Bekantan, apalagi selama ini BPost memang memiliki misi serupa yaitu mengenalkan "Si Pemalu" melalui media. Beliau juga berharap semoga dengan adanya upaya seperti yang dilakukan oleh Komunitas Sahabat Bekantan ini, pemerintah daerah bisa lebih peduli terhadap keberadaan Bekantan yang merupakan hewan endemik ikon provinsi ini.
Biodiversitas Indonesia
Penyerahan Kenang-kenangan dari Bpost
Pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut di akhiri dengan penyerahan cinderamata atau kenang-kenangan oleh kedua belah pihak. Cinderamata dari SBI di serahkan oleh Ambar Pertiwi (Duta Bekantan) kepada H. Pangeran Rusdy Effendi AR, sedangkan kenang-kenangan dari Bpost di terima oleh Amalia Rezeki (Ketua Biodiversitas Indonesia).