Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Primata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Primata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Maret 2015

Biodiversitas Indonesia Pertanyakan Konservasi Orangutan

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Lembaga pecinta lingkungan dan konservasi, Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia), melalui ketuanya Amalia Rezeki mempertanyakan konservasi orangutan di wilayah Kalimantan Selatan.
Orangutan Kalimantan
Pertanyaaan ditujukan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel dan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara, mengenai tindak lanjut atas surat usulan mengajukan permohonan untuk melakukan pengamanan kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan yang ditemukan Tim Ekspedisi Biodiversitas Indonesia pada 12 Mei 2014, kata Amalia Razeki di Banjarmasin, Senin.

Menurutnya dari hasil penemuan orangutan tersebut, Biodiversitas Indonesia pada 6 0ktober 2014 mengajukan usulan kepada Kementerian Kehutanan RI melalui BKSDA Kalsel, agar segera melakukan konservasi terhadap orangutan Kalimantan Selatan mengingat habitatnya saat ini sangat memprihatinkan.

Habitat orangutan terancam akibat semakin sedikitnya pohon tegakan sebagai rumah dan tempat beraktivitas orangutan. Di samping itu, habitatnya berada di kawasan hutan produksi konversi yang rentan bisa beralih fungsi, jelas Amalia Rezeki, yang juga dosen Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat.

Sebagaimana diketahui sebelumnya penemuan orangutan dari Tim Ekspedisi Biodiversitas Indonesia ini, telah mematahkan pendapat ilmiah yang menyatakan orangutan Borneo tidak pernah memiliki persebaran di wilayah Kalsel.

Sebab bukti ilmiah dan catatan sejarah mengatakan orangutan Borneo selama ini hanya memiliki persebaran di Sabah dan Serawak (Malaysia) dan tiga provinsi di Indonesia yaitu Kalteng, Kaltim, dan Kalbar.

Namun untuk spesies yang ditemukan di wilayah Kalsel ini, Biodiversitas Indonesia belum berani memastikan termasuk ke dalam subspesies yang mana, karena sampai saat ini tim Biodiversitas Indonesia belum mendapatkan sampel genetik untuk diadakan penelitian lebih lanjut.

Berdasarkan studi genetik, orangutan Borneo dikelompokkan menjadi 3 subspesies, yaitu Northwest Bornean Orangutan (Pongo pygmaeus pymaeus), sub-spesies ini ditemukan dikawasan Serawak (Malaysia) dan Kalimantan Barat Laut, Central Bornean Orangutan (pongo pymaeus wurmbii) yang dapat dijumpai di kawasan Kalimantan Tengah dan bagian Selatan dari Kalimantan Barat.

Sedangkan Sub-spesies Northeat Bornean orangutan (Pongo pygmaeus morio) bisa dijumpai di Kalimantan Timur. Secara fisik pongo pygmaeus wurmbii merupakan sub-spesies yang memiliki ukuran relatif besar, sedang pongo pygmaeus morio ukuran tubuhnya relatif paling kecil.

Dijelaskan pula oleh Amalia Rezeki, dalam rangka pembuktian keberadaan orangutan di Kalimantan Selatan, pihaknya mengundang lima orang volunteer dari beberapa negara. Kemudian pada hari Sabtu tanggal 4 Oktober 2014 pukul 16.45 wita, akhirnya Thomas Haley, mahasiswa S3 dari Inggris yang menjadi salah satu anggota volunteer, melihat serta sempat mengabadikan orangutan yang ditemukannya yang masuk dalam wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara.

Kontak langsung dengan orangutan ini menjadikan Thomas Haley sebagai orang asing yang pertama melihat dan membuktikan keberadaan orangutan yang telah dilaporkan sebelumnya oleh Tim Biodiversitas Indonesia.
Sementara itu pakar primata dan guru besar Universitas Lambung Mangkurat Prof Arief Soendjoto menyarankan perlunya upaya konservasi terhadap habitat orang utan tersebut.
"Apakah tetap di kawasan yang ada dengan mengubah status hutan dari hutan produksi menjadi hutan konservasi, atau melakukan relokasi di kawasan lagi," ujarnya.

Di sisi lain Ferry Husien, praktisi konservasi, sekaligus penemu orangutan Kalsel, menjelaskan orangutan merupakan sebagai species utama yang menjadi simbol untuk meningkatkan kesadaran konservasi serta menggalang partisipasi semua pihak dalam aksi konservasi.
Kelestarian orangutan juga menjamin kelestarian hutan yang menjadi habitatnya dan kelestarian lingkungan makhluk hidup lainnya.

"Untuk itu saya berharap ada upaya dari pemerintah daerah maupun pusat untuk bersungguh-sungguh melindungi temuan orangutan di Kalsel. Dengan menyediakan kawasan habitat orangutan yang cukup, baik dengan upaya relokasi maupun lokalisasi hutan tersebut menjadi kawasan konservasi orangutan Kalsel," jelasnya.

Ditulis oleh : Hasan Zainuddin

Kamis, 19 Februari 2015

STOP Perdagangan Primata

BANJARMASIN – Banyaknya penjualan ilegal untuk hewan primata seperti Kukang, Tarsius, Owa-Owa, Bekantan hingga Orangutan, menjadi isu hangat untuk Hari Primata yang diperingati setiap tanggal 30 Januari. Praktik penjualan hewan ini juga banyak terjadi di Kalimantan Selatan.
Kampanye Peringatan Hari Primata (Stop Perdagangan Primata)
Zainudin, Ketua Bidang Konservasi Biodiversitas Indonesia menjelaskan, primate trafficking terjadi di seluruh kawasan Indonesia yang seyogyanya mempunyai 40 jenis primata dimana 30% diantaranya khas Indonesia. Ditengarai salah satu pemasok bahan baku kegiatan tersebut adalah Kalsel.

“Praktik di daerah pemasok lebih parah lagi, meski tidak dilakukan secara terang-terangan jalur pedagangan satwa khususnya primata telah jelas pelanggan dan pembelinya, dari pasar tradisional hingga ranah media sosial menjadi jalur haram kegiatan ini, “ kata pemerhati primata Kalsel ini.
Daerah yang menjadi habitat bagi 5 primata tersebut kini merupakan tujuan potensial bagi para pemburu. Amuntai – HSS dan  Batu Tangga, Hantakan HST hingga Barito Kuala adalah daerah pemasok hewan hewan langka yang kemudian akan didistribusikan ke pasar satwa di KM 07 Kabupaten Banjar.
Ditegaskan Zainudin, alur haram ini perlu diatasi dengan lebih serius, peran pemerintah pusat maupun daerah selaku pemegang kepentingan sangat diperlukan dalam hal ini, pembuatan aturan untuk primate trafficking juga perlu direalisasikan, Jika tidak dapat memutus langsung setidaknya langkah ini dapat mengurangi kegiatan haram tersebut.
“Untuk itulah, pada momentum Hari Primata kami melakukan kampanye Stop Primate Trafficking, sebab dengan membeli primata liar berarti Anda memberikan kesempatan kembali bagi para pemburu untuk menjual.” tegas Zainudin.

sumber : http://www.radarbanjarmasin.co.id/banua2-2/5153-stop-primata-trafficking.html

Sabtu, 01 November 2014

Biodiversitas Indonesia Temukan Orangutan Kalimantan Selatan

Biodiversitas Indonesia - Setelah melalui proses perjalanan panjang, tim ekspedisi Biodiversitas Indonesia akhirnya bisa melacak keberadaan Orangutan (Pongo pygmaeus) di Kalimantan Selatan. Hasil temuan ini cukup mengejutkan lantaran selama ini diyakini Bornean Orangutan memang terdapat hampir disemua hutan dataran rendah pulau Kalimantan kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam misalnya seperti yang tertulis di artikel http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_utan (setidaknya sampai 1 November 2014).
Tim Ekspedisi
Basecamp Tim Ekspedisi Orang Utan Kalimantan Selatan
 
Ditemukannya Bornean Orangutan di Kalimantan Selatan oleh Tim Ekspedisi Biodiversitas Indonesia merupakan catatan sejarah baru dalam dunia Orang utan. Namun fakta ditemukannya Orangutan di Kalsel tidak semata-mata membawa kabar gembira, keprihatinan dan kekhawatiran terhadap bahaya serta ancaman terhadap salah satu primata terbesar ini membuat tim ekspedisi segera membentuk organisasi khusus perlindungan Orangutan khususnya yang berada di wilayah Kalsel. 


Penemuan Sarang Bornean Orangutan

Bornean Orangutan
Sarang Orangutan
The South Borneo Orangutan Care (SBOC) adalah organisasi sosial yang membantu pemerintah dalam upaya konservasi Orangutan, melalui berbagai program, termasuk perlindungan habitat, proyek rehabilitasi dan perawatan pusat primata yatim. Juga program konservasi dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, melobi berbagai Pemerintah dan bekerja dengan masyarakat setempat untuk meningkatkan dukungan dan pemahaman tentang orangutan.



Serunya Aksi Tanam Pohon, Untukmu Bekantan

Inilah beberapa dokumentasi serunya Aksi Tanam Pohon Untukmu Bekantan, yang tidak hanya di ikuti oleh relawan dari Indonesia tetapi juga oleh relawan dari beberapa negara di dunia. Kegiatan yang di usung oleh The Bekantan Twin Project ini didukung oleh BKSDA Kalsel dan Sahabat Bekantan Indonesia.  
Aksi Tanam Pohon Untukmu, Bekantan..
Penanaman Pohon Bakau di Pulau Bakut, Kalimantan Selatan, Indonesia

Aksi Sosial Penanaman Pohon di Pulau Bakut, Kalimantan Selatan 


Minggu, 06 April 2014

Spesies Baru Kukang Kalimantan

Sedikitnya 3 jenis baru Kukang di temukan di Pulau Kalimantan. Ketiga spesies baru Kukang tersebut adalah Nycticebus kayanNycticebus  borneanus, dan Nycticebus bancanus. Sebelumnya Nycticebus  borneanus, dan Nycticebus bancanus masih di masukan kedalam jenis Nycticebus menagensis.
Kukang Kalimantan

Nycticebus kayan adalah spesies baru yang belum dikenali. Spesies ini ditemukan di tengah-timur dataran tinggi Kalimantan. Namanya diambil dari sungai setempat, Kayan, di Kalimantan Timur. Sedangkan Nycticebus bancanus bisa ditemukan di bagian barat daya Kalimantan yang dikenal memiliki kekhasan warna bulu, sementara Nycticebus  borneanus  hidup di bagian tengah selatan Kalimantan dengan ciri wajah gelap dan kontras. 

Tiga spesies baru  Kukang di Pulau Kalimantan ini di temukan oleh Ahli peneliti primata kukang Universitas Oxford Brookes, Profesor Ana Nekaris, melalui penelitian Deoxyribonucleic acid atau DNA kukang di Indonesia.

Selain  akan ditambahkan dalam daftar merah IUCN sebagai spesies yang terancam punah,", Kukang merupakan primata yang di lindungi oleh Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati, ancaman yang dijatuhkan adalah kurungan lima tahun penjara serta denda sebanyak Rp 100 juta.

Fakta Kukang Kalimantan (Nycticebus kayan)

Di balik penampilannya yang lucu dan imut Kukang ini ternyata merupakan primata yang memiliki racun mematikan. Gigitan beracun spesies Kukang yang baru saja ditemukan di Kalimantan ini dapat membunuh manusia.

Racun tersebut terdapat di kelenjar siku yang terhubung ke mulutnya. Saat terancam bahaya kukang ini mengambil racun ke dalam mulutnya dan mencampurnya dengan air liur. Racunnya menimbulkan anaphylactic shock berujung kematian jika tergigit.

Sumber : Antaranews

Kamis, 20 Juni 2013

Siamang - Gibon Sumatera

The siamang (Symphalangus syndactylus) is a tailless, arboreal, black-furred gibbon native to the forests of Sumatra. The largest of the lesser apes, the siamang can be twice the size of other gibbons, reaching 1 m in height, and weighing up to 14 kg. The siamang is the only species in the genus Symphalangus.



Siamang merupakan hewan yang lebih aktif pada siang hari. Mereka bersosialisasi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari dua sampai tiga ekor siamang.. Berbeda dengan kera lainnya, siamang tidak mempunyai tempat khusus untuk tidur. Mereka hanya tidur sendiri atau dengan beberapa ekor siamang di celah antar cabang pada pepohoan.Mereka tidur dengan posisi tegak, bersandar pada bantalan keras yang terletak di ujung belakang mereka..Bantalan ini disebut ischial callosities.Selain itu, siamang memiliki kantung tenggorokan yang biasa disebut kantung gular. Kantung ini dapat mengembang menjadi besar seperti kepala mereka yang berfungsi membuat pita suara lebih keras.Pada waktu dalam keadaan bahaya, siamang betina akan mengeluarkan suara yang nyaring dan diikuti oleh siamang jantan selama tiga hingga lima belas menit..Suara mereka dapat terdengar dari jarak sekitar 6,5 km..Siamang tidak dapat berenang dan takut air. Siamang dapat bertahan hidup sekitar 35-40 tahun.

Siamang merupakan hewan omnivora. Sektar 75% makanan mereka adalah buah, sisanya daun, bunga, biji-bijian, dan kulit kayu. Mereka juga memakan serangga, laba-laba, telur burung, dan burung kecil.Karena takut air, siamang akan mencelupkan kaki depannya ke dalam air atau menggosok tangan pada daun yang basah dan menghisap air pada bulu kakinya sebagai minuman.

Proboscis monkey - Nasalis larvatus

Nasalis lavartus - monyet belanda
Di Kalimantan , jenis kera ini dikenal juga denganBentangan, Raseng dan Kahau. Bekantan(Nasalis larvatus)
adalah satwa yang tergolong kedaIam ordo Primata, Famili Cercophithe Cidae,Subfamili Coleginae. Satwa ini hidup endemik diTannan Nasional Gunung Palung dan hutan-hutan dikepulauan Kalmantan. Tidak heran, apabila satwa inidan Orangutan (Pongo pygmaeus) menjadi satwaprimadona Taman Nasional Gunung Palung, sehinggabekantan menjadi logo resmi dan narna buletin BalaiTaman Nasional Gurtung Palung (Nasalis). Bekantandisebut sebagai Kera Belanda, karena memiliki hidung yang menonjol agak lebar menggantung kedepan seperti hidung orang belanda. Selain itu binatang ini disebut jugaBakara, Hakau, Rasung, Pika, Batangan atau dalam bahasa inggris biasa disebut ProboscisMonkey. Selain mempunyai hidung yang panjang, Bekantan juga mempunyai morfologi yangkhas yaitu mempunyai selaput diantara jari kaki dan tangan serta sistem pencenaan yangsama dengan rusa, jerapah. sapi, domba. dan kambing yang disebut Rominansia, dan jugamempunyai sistem sosial yang unik dihabitatnya. Bekantan ( Nasalis larvatus ) merupakanspesies primata bukan-manusia yang unik dan dikategorikan dimorfisme seksual. Primatadiurnal ini endemik Borneo (Kalimantan, Sabah, Serawak, Brunei Darussalam). Tubuhnya berwarna coklat kekuningan atau coklat kemerahan; kadang-kadang orang menyebut warnatubuhnya jingga atau oranye. Jantan tidak hanya memiliki tubuh yang ukurannya lebih besar daripada betina tetapi memiliki hidung berbentuk khas yang berbeda dari hidung betina.Hidung si jantan berbentuk seperti umbi menggantung dan berukuran panjang, sedangkanhidung si betina mancung saja, seperti layaknya hidung manusia. Karena warna tubuh dan bentuk hidung demikian, masyarakat sering menyebut bekantan ini kera belanda.Primata inidikenal pandai berenang dan menyelam,bahkan juga sering terlihat sedang berjalan dilumpur
.