Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Kagiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kagiatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Maret 2017

Mentri LHK Bersama SBI Lepas Liarkan Lola Amalia

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel)- Lola Amalia adalah nama seekor bekantan betina dewasa yang turut dilepas liarkan diantara empat ekor lainnya  oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya bersama-sama dengan Walikota Banjarmasin, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan,Ketua Sahabat Bekantan Indonesia dan Bupati Batola, serta disaksikan oleh Direktur Jenderal PPKL, Direktur Jenderal PDASHL, dan Direktur Jenderal PSLB3.


Nama Lola Amalia diberikan oleh ibu Siti Nurbaya sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Amalia Rezeki selaku ketua Sahabat Bekantan Indonesia, yang selama ini melakukan upaya penyelamatan bekantan di Kalimantan Selatan. Bekantan yang dilepasliarkan terdiri dari jantan dan betina,sebanyak empat ekor. Bekantan tersebut memiliki nama Lucky Boy (jantan usia 7 tahun), Mantuil (betina usia 3.5 tahun), Titik (betina usia 5 tahun), dan Lola Amalia (betina usia 5 tahun).
â€Å“ Saya sangat salut dan mengapresiasi bu Amalia Rezeki dari Sahabat Bekantan Indonesia yang telah berupaya membantu melestarikan bekantan di Kalimantan Selatan. Untuk itu salah satu bekantan betina yang akan kita lepas liarkan ini, saya beri nama â€Å“ Lola Amalia â€Å“, saya ambil dari nama Amalia Rezeki â€Å“, jelas ibu Siti Nurbaya ketika akan melakukan pelepas liaran bekantan tersebut.

Bekantan yang dilepasliarkan adalah merupakan hasil upaya penyelamatan (rescue) konflik satwa dengan masyarakat karena adanya alih fungsi  lahan,kebakaran hutan dan lahan serta hasil serahan masyarakat Sebelumnya, upaya penyelamatan Bekantan dilakukan oleh Tim Rescue Sahabat Bekantan Indonesia  bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan. 

Sementara itu Amalia Rezeki merasa terharu, atas pencapaian perjuangan Sahabat Bekantan Indonesia, yang selama 26 tahun sejak ditetapkannya sebagai maskot Kalimantan Selatan, baru sekarang mendapat perhatian khusus, baik dari pemerintah provinsi maupun sampai ketingkat kementrian, dengan ditandai kehadiran bu Mentri LHK pada acara puncak pelepas liaran bekantan di Pulau Bakut – Barito Kuala. 

â€Å“ Saya sangat terharu dan berterimakasih sekali kepada ibu Siti Nurbaya selaku Menteri LHK dan Jajaran Pemerintah Daerah serta semua stake holder didaerah sampai pusat, yang bersatu padu untuk menyelamatkan serta melestarikan bekantan yang keberadaannya terancam punah, terlebih bekantan adalah merupakan spesies kunci dan endemik Kalimantan â€Å“. Tutur Amalia Rezeki yang juga merupakan dosen pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat.

Selanjutnya menurut Amalia Rezeki, SBI selama tahun 2015 dan hingga  2017, sudah sekitar 27 kali  melakukan evakuasi bekantan. Sementara yang sudah dilepasliarkan berjumlah 20 ekor, yang sedang dirawat 7 ekor, serta tiga ekor tidak dapat tertolong akibat luka bakar yang cukup serius.Seperti diketahui, bekantan dilindungi berdasarkan Ordonansi Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 No 134 dan No 266 jo UU No 5 Tahun 1990. Berdasarkan lembaga konservasi Internasional, bekantan termasuk dalam daftar merah IUCN Bekantan dikategori terancam, dimana populasi satwa berada diambang kepunahan. 

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan pada tahun 1987 jumlah populasi bekantan di Pulau Kalimantan masih cukup banyak mencapai 250.000 ekor dan 25.000 ekor berada di kawasan konservasi (MacKinnon,1978). Kemudian menyusut drastis pada tahun 1995, hanya berjumlah sekitar 114.000 ekor dan hanya tersisa 7.500 ekor di kawasan konservasi (Bismark,1995). 

Sehingga dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir populasi bekantan di Pulau Kalimantan berkurang sekitar 50 persen. Sedangkan di Kalimantan Selatan melalui penelitian yang dilaksanakan tahun 2013 oleh BKSDA Kalsel hanya berjumlah sekitar 3.600 sampai lima ribu ekor, namun sekarang diperkirakan sudah tidak sampai 2500 ekor lagi.

Kamis, 19 Februari 2015

STOP Perdagangan Primata

BANJARMASIN – Banyaknya penjualan ilegal untuk hewan primata seperti Kukang, Tarsius, Owa-Owa, Bekantan hingga Orangutan, menjadi isu hangat untuk Hari Primata yang diperingati setiap tanggal 30 Januari. Praktik penjualan hewan ini juga banyak terjadi di Kalimantan Selatan.
Kampanye Peringatan Hari Primata (Stop Perdagangan Primata)
Zainudin, Ketua Bidang Konservasi Biodiversitas Indonesia menjelaskan, primate trafficking terjadi di seluruh kawasan Indonesia yang seyogyanya mempunyai 40 jenis primata dimana 30% diantaranya khas Indonesia. Ditengarai salah satu pemasok bahan baku kegiatan tersebut adalah Kalsel.

“Praktik di daerah pemasok lebih parah lagi, meski tidak dilakukan secara terang-terangan jalur pedagangan satwa khususnya primata telah jelas pelanggan dan pembelinya, dari pasar tradisional hingga ranah media sosial menjadi jalur haram kegiatan ini, “ kata pemerhati primata Kalsel ini.
Daerah yang menjadi habitat bagi 5 primata tersebut kini merupakan tujuan potensial bagi para pemburu. Amuntai – HSS dan  Batu Tangga, Hantakan HST hingga Barito Kuala adalah daerah pemasok hewan hewan langka yang kemudian akan didistribusikan ke pasar satwa di KM 07 Kabupaten Banjar.
Ditegaskan Zainudin, alur haram ini perlu diatasi dengan lebih serius, peran pemerintah pusat maupun daerah selaku pemegang kepentingan sangat diperlukan dalam hal ini, pembuatan aturan untuk primate trafficking juga perlu direalisasikan, Jika tidak dapat memutus langsung setidaknya langkah ini dapat mengurangi kegiatan haram tersebut.
“Untuk itulah, pada momentum Hari Primata kami melakukan kampanye Stop Primate Trafficking, sebab dengan membeli primata liar berarti Anda memberikan kesempatan kembali bagi para pemburu untuk menjual.” tegas Zainudin.

sumber : http://www.radarbanjarmasin.co.id/banua2-2/5153-stop-primata-trafficking.html

Sabtu, 01 November 2014

Biodiversitas Indonesia Temukan Orangutan Kalimantan Selatan

Biodiversitas Indonesia - Setelah melalui proses perjalanan panjang, tim ekspedisi Biodiversitas Indonesia akhirnya bisa melacak keberadaan Orangutan (Pongo pygmaeus) di Kalimantan Selatan. Hasil temuan ini cukup mengejutkan lantaran selama ini diyakini Bornean Orangutan memang terdapat hampir disemua hutan dataran rendah pulau Kalimantan kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam misalnya seperti yang tertulis di artikel http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_utan (setidaknya sampai 1 November 2014).
Tim Ekspedisi
Basecamp Tim Ekspedisi Orang Utan Kalimantan Selatan
 
Ditemukannya Bornean Orangutan di Kalimantan Selatan oleh Tim Ekspedisi Biodiversitas Indonesia merupakan catatan sejarah baru dalam dunia Orang utan. Namun fakta ditemukannya Orangutan di Kalsel tidak semata-mata membawa kabar gembira, keprihatinan dan kekhawatiran terhadap bahaya serta ancaman terhadap salah satu primata terbesar ini membuat tim ekspedisi segera membentuk organisasi khusus perlindungan Orangutan khususnya yang berada di wilayah Kalsel. 


Penemuan Sarang Bornean Orangutan

Bornean Orangutan
Sarang Orangutan
The South Borneo Orangutan Care (SBOC) adalah organisasi sosial yang membantu pemerintah dalam upaya konservasi Orangutan, melalui berbagai program, termasuk perlindungan habitat, proyek rehabilitasi dan perawatan pusat primata yatim. Juga program konservasi dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, melobi berbagai Pemerintah dan bekerja dengan masyarakat setempat untuk meningkatkan dukungan dan pemahaman tentang orangutan.



Serunya Aksi Tanam Pohon, Untukmu Bekantan

Inilah beberapa dokumentasi serunya Aksi Tanam Pohon Untukmu Bekantan, yang tidak hanya di ikuti oleh relawan dari Indonesia tetapi juga oleh relawan dari beberapa negara di dunia. Kegiatan yang di usung oleh The Bekantan Twin Project ini didukung oleh BKSDA Kalsel dan Sahabat Bekantan Indonesia.  
Aksi Tanam Pohon Untukmu, Bekantan..
Penanaman Pohon Bakau di Pulau Bakut, Kalimantan Selatan, Indonesia

Aksi Sosial Penanaman Pohon di Pulau Bakut, Kalimantan Selatan 


Kamis, 06 Maret 2014

Seminar Peringatan World Wildlife Day

Puluhan peserta yang mengikuti seminar "Pengenalan dan Pelatihan Konservasi Bekantan" tampak antusias menyimak berbagai materi dari penyaji. Kegiatan seminar yang di selenggarakan oleh Program Magister Pendidikan Biologi Unlam bekerjasama dengan Lembaga Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia) di gelar dalam rangka memperingati "Word Wildlife Day" yang jatuh pada tanggal 3 Maret lalu.

Pemateri dan Peserta seminar 


Ketua Program Magister Pendidikan Biologi Unlam Banjarmasin
Dr. H. M Zaini, M.Pd dan pemateri
 
Prof. Dr. Ir. H. M. Arief Soenjoto, M. Sc 

Seminar di buka langsung oleh Dr. H. M Zaini, M.Pd (Ketua program Magister Pendidikan Biologi Unlam) dengan pembicara Prof. Dr. Ir. H. M. Arief Soenjoto, M. Sc guru besar Fakultas Kehutanan Unlam yang juga peneliti dan pemerhati Bekantan di Kalsel.
jumlah seminar pelatihan
Peserta Seminar

Bertempat di ruang multimedia Pasca Sarjana Pendidikan Biologi Unlam Banjarmasin, kegiatan yang di helat Kamis (6/3/14) ini di hadiri peserta yang berasal dari berbagai kalangan di antaranya pelajar Sekolah Menengah Atas) Mahasiswa dan mahasiswi S1 serta S2 Unlam, komuntias Sahabat Bekantan Indonesia serta tidak ketinggalan Ambar Pertiwi  (Duta Bekantan) dan Zainuddin (Duta Konservasi).

Seminar dan pelatihan bekantan
Suasana Seminar Pengenalan dan Pelatihan Konservasi Bekantan
Dalam sambutannya Dr. H. M Zaini, M.Pd berharap pemerintah daerah bisa lebih tegas dalam menjaga dan mempertahankan habitat Bekantan dari ancaman alih fungsi. "Pemerintah harus tegas terhadap pengusaha yang akan melakukan kegiatan alih fungsi hutan yang menjadi habitat Bekantan, kalau tidak mereka akan semakin terancam" tegasnya.

Dalam pemamparan materinya Prof. Dr. Ir. H. M. Arief Soenjoto, M. Sc mengingatkan bahwa kawanan Bekantan yang berada di luar area konservasi jauh lebih berisiko dari kegiatan alih fungsi habitat sehingga harus terus di awasi. "Kawanan Bekantan yang tinggal di luar kawasan konservasi lebih berisiko dan harus mendapat perhatian" ujarnya.

Di tambahkan Arief saat ini ada banyak kawanan Bekantan yang berada di luar habitat alaminya dan perlu mendapat perhatian serius oleh pemerintah daerah untuk mempertahankan habitat yang ada atau merelokasinya.

Panitia pelaksana Amalia Rezeki menuturkan, seminar "Pengenalan dan Pelatihan Konservasi Bekantan" ini adalah langkah awal untuk melahirkan kader-kader baru untuk pelestarian Si Maskot. Rencananya seminar dengan materi dan pelatihan yang lebih detail akan kembali digelar dalam waktu dekat (mj).

Selasa, 04 Maret 2014

Sahabat Bekantan Sambangi BPost

Biodiversitas Indonesia - Sekitar pukul 11.00 Wita delapan perwakilan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) menyambangi Kantor Banjarmasin Post di Jl. AS Musafa, Selasa (4/4/14). Rombongan yang dipimpin langsung oleh Amalia Rezeki, Ketua Biodiversitas Indonesia ditemani oleh Ambar Pertiwi (duta bekantan) dan Zainuddin (duta konservasi) di terima langsung oleh pimpinan umum Harian Banjarmasin Post, H. Pangeran Rusdy Effendi. AR.
 
Audiensi Sahabat Bekantan ke Banjarmasin Post

Dalam kesempatan Audiensi tersebut Amalia Rezeki, Ketua Biodiversitas Indonesia menyampaikan rasa terimakasihnya secara khusus kepada H. Pangeran Rusdy Effendi. AR yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menerima rombongan Sahabat Bekantan Indonesia. Secara lebih spesifik Amalia menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka selain menjalin silaturahim juga untuk meminta dukungan untuk setiap kegiatan Komunitas Sahabat Bekantan dalam upaya memperjuangkan kelestarian serta mengangkat citra "Si Maskot" Kalimantan Selatan.
Sahabat Bekantan Indonesia
Ambar Pertiwi menyerahkan cinderamata untuk Bpost
H. Pangeran Rusdy Effendy AR mengapresiasi positif kedatangan rombongan dan berjanji akan mendukung penuh kegiatan Sahabat Bekantan dalam mensosialisasikan kelestarian Bekantan, apalagi selama ini BPost memang memiliki misi serupa yaitu mengenalkan "Si Pemalu" melalui media. Beliau juga berharap semoga dengan adanya upaya seperti yang dilakukan oleh Komunitas Sahabat Bekantan ini, pemerintah daerah bisa lebih peduli terhadap keberadaan Bekantan yang merupakan hewan endemik ikon provinsi ini.
Biodiversitas Indonesia
Penyerahan Kenang-kenangan dari Bpost
Pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut di akhiri dengan penyerahan cinderamata atau kenang-kenangan oleh kedua belah pihak. Cinderamata dari SBI di serahkan oleh Ambar Pertiwi (Duta Bekantan) kepada H. Pangeran Rusdy Effendi AR, sedangkan kenang-kenangan dari Bpost di terima oleh Amalia Rezeki (Ketua Biodiversitas Indonesia).


Minggu, 02 Februari 2014

Perjalanan Tim Biodiversitas Indonesia Menjumpai Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus)

Biodiversitas Indonesia- Menyusuri sungai di antara rimbun semak serta teduhnya daun pepohonan di pedalaman Kalimantan Tengah menjadi pengalaman unik yang tak terlupakan  bagi Tim Biodiversitas Indonesia bersama Sahabat Bekantan. Apalagi  bisa bertemu, melihat dan mengamati aktivitas Orangutan dari jarak hanya beberapa meter rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 
Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng

Menyusuri sungai atau menembus lebatnya rimba hutan Kalimantan memang bukan pertama kalinya bagi Tim Biodiversitas Indonesia, tapi yang berbeda kali ini ada misi khusus yaitu berjumpa dan mengenal lebih dekat Orangutan Kalimantan ( Pongo pygmaeus) salah satu dari dua sub-spesies orang utan yang ada di Indonesia, selain kerabatnya yaitu Orangutan Sumatera (Pongo abelli) yang ada di Pulau Sumatera. 
Tim Biodiversitas Indonesia
Tim Biodiversitas Indonesia dan Sahabat Bekantan
 Bersama pihak BOS Nyaru Menteng dan Wildlife Photograper Palangkaraya
Berangkat dari Banjarmasin, Tim Biodiversitas Indonesia memilih transportasi darat menggunakan mobil menuju Kota Palangkaraya. Banjarmasin-Palangkaraya berjarak sekitar 192 Km dengan lama waktu tempuh berkisar antara 4,5-5 jam. Tujuan Tim adalah Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan Yayasan Borneo Orangutan Survival di Nyaru Menteng yang berjarak kurang lebih 28 km dari Pusat Kota Palangkaraya. 

Tiba di Palangkaraya, Tim tidak lantas langsung meluncur ke BOS Nyaru Menteng melainkan menuju kantor BKSDA untuk mengurus beberapa surat izin masuk kawasan konservasi (SIMAKSI). Berkat bantuan bang Ugi dari Komunitas Wild Life Fotografi, Tim sangat terbantu dalam pengurusan surat menyurat ini.  Hari menjelang sore, Kami bergerak menuju tempat peristirahatan untuk beristirahat melepas penat dan lelah selama perjalanan. 
Pengurusan SIMAKSI di BKSDA Kalimantan Tengah


Malam yang gelap dan dingin akhirnya berlalu, perlahan cahaya redup mulai menyeruak di ufuk timur pertanda matahari akan segera muncul, Tim segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Meski waktu baru menunjukan pukul 07.00 WIB tetapi Tim sudah tiba di lokasi, maklum jarak lokasi dari tempat menginap hanya sekitar 25 km. Karena masih terlalu pagi Kami harus menunggu perwakilan pihak BOS Nyaru Menteng untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan Tim Biodiversitas sekaligus menyerahkan SIMAKSI.

Di luar dugaan ternyata Kami harus menunggu cukup lama untuk bertemu perwakilan pihak BOS yang akhirnya setelah hampir pukul 09.00 WIB baru menerima Kami. Koordinator Tim, Zainuddin didamping rekan-rekan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan Kami. Sekali lagi, Kami harus menelan kekecewaan ternyata untuk bisa bertemu dan melihat aktifitas Orangutan dari dekat di Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng terkesan sangat ribet dan berbelit-belit. Dengan berbagai alasan yang di kemukakan oleh Monterado Fridman Koordinator Komunikasi dan Edukasi Nyaru Menteng pada intinya menjadi sesuatu yang hampir mustahil bagi masyarakat awam bisa berada di posisi yang cukup dekat dengan Orang-orang utan di sini. Namun bagi para donatur atau pengadopsi yang umumnya warga negara asing justru sebaliknya.

Bagi Tim Biodiversitas Indonesia dan Sahabat Bekantan, sebenarnya melihat dan berjumpa Orangutan di Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Nyaru Menteng bukanlah prioritas, karena sebenaranya yang menjadi tujuan utamnya adalah melihat aktifitas mereka di alam liar atau hutan. Kamipun tidak ingin berlama-lama "ngobrol" di Ruang Informasi dan Edukasi yang notabene sebagian besar informasi mengenai Orangutan dan Yayasan BOS tersebut bisa dengan mudah didapat di berbagai sumber di internet.

Untuk diketahui, selama proses Rehabilitasi dan Reintroduksi setiap individu Orangutan akan menjalani beberapa tahapan yaitu Karantina, Sosialisasi dan Release yang lamanya bahkan bisa mencapai 6-8 tahun. Nah, di antara tahap tersebut ada namanya tahap Pra release atau pra pelepasan di mana Orangutan yang sudah hampir siap dilepas liarkan akan ditempatkan di Hutan Singgah, sebuah kawasan hutan yang memang memiliki keanekaragaman hayati mendekati habitat aslinya. Tujuannya adalah untuk melatih dan memunculkan insting liar si Orangutan sehingga benar-benar siap di lepas-liarkan.

Hutan singgah ada di beberapa tempat yang jaraknya tidak jauh dari lokasi Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan. Lokasi tersebutlah yang rencananya akan dituju oleh Tim untuk melihat dan mengamati perilaku dan tingkah polah Orangutan semi liar di habitat hutan singgah.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 11.00 WIB, terik matahari semakin menyengat Tim meluncur menuju salah satu dermaga terdekat dengan hutan singgah. Setelah bernegosiasi dengan masyarakat pemilik perahu motor yang memang kerap di sewa untuk tujuan serupa akhirnya Kami berangkat ke lokasi.
Persiapan Tim menuju Lokasi Habitat Orangutan

Menyusuri Sungai menuju Habitat Orangutan Kalimantan Tengah
Suasana Habitat Orangutan


Aktivitas Orangutan di alam


Meski terik matahari terasa membakar kulit, Tim tampak tak kehilangan semangatnya. Perahu motor terus melaju menyusuri sungai. Sarang-sarang Orangutan di pepohonan  menandakan bahwa disini memang habitat mereka. Tiba-tiba pandangan semua mata tertuju pada titik yang tunjuk oleh salah satu anggota Tim Biodiversitas Indonesia dan Sahabat Bekantan, "Orangutan," ucap Wandi, sembari menunjuk pada satu individu Orangutan yang tampak sedang berendam di tepian sungai. Panas matahari yang menyengat rupanya membuat Orangutan ini memutuskan berendam.
Orangutan

Setelah mengabadikan moment tersebut, perahu motor kembali bergerak. Tak jauh berselang, Kami kembali memusatkan perhatian pada beberapa Orangutan di salah satu pohon. Salah satu Orangutan tersebut tampak bergelantungan sedangkan yang lain hanya berpegangan pada salah satu dahan tampak bernaung dari terik matahari. Berada di atas Perahu motor yang relatif kecil dan mudah goyang akibat ombak arus sungai yang cukup deras membuat Tim kesulitan mengambil gambar, meski menggunakan kamera tele. Menurut juru kemudi, setiap perahu yang membawa pengunjung tidak diperkenankan mendekati Orangutan kurang dari jarak 15 meter apalagi menambatkan perahu di tepian sungai.

Sepertinya hari itu memang menjadi salah satu hari terpanas, karenanya Koordinator Tim akhirnya meminta juru kemudi untuk kembali. Di perjalanan pulangpun, Kami masih melihat beberapa Orangutan tampak sedang asik dengan aktifitas mereka masing-masing. Meski menurut juru kemudi Kami datang tidak waktu dan moment yang pas karena biasanya waktu terbaik mengunjungi hutan singgah adalah saat Feeding yaitu pemberian suplai makanan oleh pihak BOS Nyaru Menteng. Saat Feeding, semua Orangutan akan keluar dari dalam hutan untuk mengambil makanan berupa buah dan umbi-umbian pada pagi dan sore hari. Namun Tim merasa cukup puas bisa mendapatkan kesempatan langka bertemu dan melihat langsung aktifitas dan tingkah polah Orangutan di alam.

Selasa, 07 Januari 2014

Tim Sahabat Bekantan Pantau "Proboscis Monkey" Pulau Kaget


Sahabat Bekantan - Hari masih pagi Tim Sahabat Bekantan dipimpin oleh Zainuddin Ketua Divisi Konservasi tampak sibuk berkemas. Rupanya mereka sedang mempersiapkan segala keperluan guna pengamatan Bekantan (Nasalis larvatus) di salah satu pulau yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Barito Kuala yaitu Pulau Kaget. 


Pagi itu (Minggu, 05/01/14), mereka bergerak dari sekretariat Biodiversitas Indonesia menggunakan transportasi darat menuju dermaga dimana sebuah kapal motor telah dipersiapkan untuk mengantarkan ke lokasi tujuan.

Tim Observasi
Observasi Tim Sahabat Bekantan di Pulau Kaget
Pengamatan Bekantan

Pulau Kaget adalah sebuah delta yang terletak di tengah-tengah sungai Barito termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Tabunganen, Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Pulau Kaget terletak dekat muara sungai Barito dengan perwakilan tipe ekosistem hutan mangrove dengan berbagai jenis flora seperti rambai (Sonneratia caseolaris), nipah (Nypa fructicans), bakung (Crinum asiaticum), jeruju (Acanthus ilicifolius), dan lain-lain. Selain merupakan kawasan konservasi habitat Bekantan (Nasalis larvatus), Pulau Kageet juga menjadi habitat bagi fauna lain  seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), elang laut perut putih (Heliaetus leucogaster), elang bondol (Haliastur indus), raja udang biru (Halycon chloris), dan lain-lain.
Suaka Margasatwa Pulau Bakut
Pada tahun 1999, pulau ini ditetapkan Sebagai Cagar Alam sesuai  Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 337/Kpts-II/1999 tanggal 24 Mei 1999. Namun sempat mengalami degradasi sehingga dilakukan rehabilitasi kawasan khususnya tanaman Rambai Padi yang menjadi sumber makanan utama Bekantan. Atas pertimbangan tersebut akhirnya Menteri Kehutanan dan Perkebunan mengeluarkan  Surat Keputusan Nomor: 772/Kpts-II/1999 tanggal 27 September 1999  yang mengubah fungi kawasan tersebut dari Cagar Alam menjadi Suaka Margasatwa.

Bekantan (Nasalis larvatus)





Usaha rehabilitasi kawasan tersebut rupanya membuahkan hasil, berdasarkan observasi Tim Sahabat Bekantan setidaknya ditemukan sekitar 6 kelompok bekantan dengan jumlah rata-rata anggota sebanyak 7-15 individu perkelompok. Hasil observasi ini tentunya sebuah kabar gembira, karena sebelum tahun 90-an Pulau Kaget sempat mengalami degradasi kawasan yaitu matinya sebagian besar pohon Rambai padi (Soneratia caseolaris) yang berimbas pada penurunan populasi Bekantan secara drastis. 

Amalia Rezki, Ketua Biodiversitas Indonesia yang juga turut serta dalam kegiatan observasi tersebut mengaku sangat senang. Untuk turut menjaga keberhasilan upaya rehabilitasi kawasan tersebut rencananya Biodiversitas Indonesia akan membentuk tim pantau khusus guna mengikuti perkembangan populasi bekantan di Pulau Kaget sekaligus melakukan sosialiasi konservasi bekantan kepada masyarakat sekitar.

Selasa, 10 Desember 2013

Misi Penyelamatan Bekantan Di Kintap

Biodiversitas Indonesia - Kabar tertangkapnya seekor Bekantan (Proboscis Monkey) berjenis kelamin jantan yang terpisah dari kawananannya pada  Senin (9/12/13) di Kintap Kabupaten Tanah Laut - Kalsel membuat Ambar Pertiwi tidak bisa tidur nyenyak. Kekhawatiran Duta Bekantan tersebut memang beralasan, Nasalis larvatus adalah hewan pemalu dan mudah stres, sedikit saja perlakuan  keliru dapat berakibat fatal bagi satwa endemik ikon Provinsi Kalsel tersebut.

Ambar Pertiwi, Duta bekantan Tiba di Lokasi
Tak ingin berlama-lama, Ambar pun langsung menghubungi Amalia Rezeki, Ketua Biodiversitas Indonesia untuk  membentuk tim penyelamatan Bekantan di Kintap. Sahabat Bekantan adalah salah satu program Lembaga Biodiversitas Indonesia yang memperjuangkan kelestarian "Monyet Belanda" melalui upaya-upaya konservasi dan sosialisasi.
Diskusi dan Sosialiasi dengan warga
Dalam waktu kurang dari 1 x 24 jam akhirnya tim Sahabat Bekantan dipimpin langsung oleh Duta sekaligus Koordinator Sahabat Bekantan Ambar Pertiwi, S.Pd meluncur kelapangan. Didampingi wakil ketua Biodiversitas Indonesia serta rekan dari Impas-B Unlam, Duta Bekantan melakukan sosialisasi sekaligus meminta kepada warga untuk melepas liarkan kembali Bekantan tersebut kealam. 

Menurut penuturan warga, sebenarnya mereka tidak ada niatan menyakiti ataupun memperjual belikan hewan tersebut. Mereka hanya tertarik lantaran belum pernah meliat langsung Bekantan dari jarak dekat. Meski sempat ragu untuk melepaskan kembali karena takut hewan tersebut kembali ditangkap oleh orang lain namun setelah mendapatkan masukan dan sosialisasi dari Tim Sahabat Bekantan mereka akhirnya tidak keberatan. 
Duta Bekantan Berjuang Demi Perlindungan Sang Maskot

Ambar berharap masyarakat bisa lebih peduli dan menyayangi ikon kebanggan Kalsel tersebut. Ia pun mengajak seluruh masyarkat untuk turut mensosialiasikan perlindungan Bekantan baik dari perburuan maupun pengrusakan habitat seperti alih fungsi  dan kebakaran. Kasus yang terjadi kali ini adalah indikasi rusaknya habitat Bekantan sehingga memaksanya keluar untuk mencari makan. "Bantu Kami mensosialisasikan perlindungan Bekantan, karena kalau bukan kita, siapa lagi?". ujar Ambar.

Bekantan (Nasalis larvatus) oleh IUCN Redlist sejak tahun 2000 dimasukkan dalam status konservasi kategori Endangered (Terancam Punah) setelah sebelumnya masuk kategori “Rentan” (Vulnerable; VU). Selain itu Bekantan juga terdaftar pada CITES sebagai Apendix I  artinya hewan ini tidak boleh diperdagangkan secara internasional (mj).


Selasa, 03 Desember 2013

Tanam Pohon Bersama Siswa dan Kader Konservasi SMAN Alalak

Penyerahan Bibit oleh
Amalia Rezeki, Ketua Biodiversitas Indonesia
kepada Kepsek SMAN Alalak
Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) di peringati setiap tanggal 28 November, merupakan momentum yang di gaungkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu wujud upaya mensukseskan gerakan tanam 1 Milyar Pohon.
Sebagai wujud kepedulian yang sama terhadap lingkungan serta untuk mendukung program yang telah dicanangkan pemerintah, Biodiversitas Indonesia dalam momentum peringatan HMPI bekerja sama dengan salah satu Sekolah Menengah Atas di Handil Bakti, Kecamatan Alalak-Batola menggelar kegiatan tanam pohon. 

Puluhan bibit pohon serta tanaman buah yang diserahkan oleh ketua Biodiversitas Indonesia, Amalia Rezeki di terima langsung oleh kepala sekolah SMAN Alalak yang kemudian ditanam bersama dengan Kader Konservasi dan Siswa sekolah. 
Foto Bersama sebelu kegiatan tanam pohon

Dalam sambutannya ketika serah terima bantuan bibit, Kepala Sekolah SMAN Alalak Drs. Chairun Subhi mengungkapkan sangat bersyukur SMAN Alalak dipilih menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan tanam pohon. Menurut beliau, pohon merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia karenanya wajib bagi manusia untuk menjaga, dan memelihara pohon yang ada.

Tanam pohon di Halaman Sekolah

Dikesempatan yang sama Amalia juga mengaku sangat senang dan berterimakasih kepada SMAN Alalak karena telah bersedia meluangkan waktu untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut meski secara sederhana. Ia berharap kedepan antara Biodiversitas Indonesia bisa bekerjasama lebih banyak hal khususnya dalam bidang konservasi.




Minggu, 17 November 2013

Dokumentasi Kegiatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2013

1. Pelepas liaran burung oleh Biodiversitas Indonesia bersama-sama HIMBIO Unlam, B-Real, INOS Kalsel, dan  Impas-B di Kawasan hijau kampus Unlam Banjarmasin.
Pelepasan Burung Secara Simbolis dipimpin oleh Prof.Dr.Ir.H.M. Arief Soendjoto, M.Sc
Penasehat Biodiversitas Indonesia
2. Penyerahan Anggrek Secara Simbolis untuk ditanam di Lingkungan Kampus Unlam
Penyerahan Anggrek Secara Simbolis Kepada Inos Kalsel
Untuk di Tanam di Lingkungan Kampus Unlam Banjarmasin

Penyerahan Anggrek Secara Simbolis Kepada Perwakilan Impas-B
Unlam Banjarmasin
3. Pameran Foto Wild Life
Salah satu Foto Yang di Pamerkan

Koordinator Sahabat Bekantan, Agustina Ambar Pertiwi berfoto
di Salah satu koleksi Foto yang di pamerkan
Beberapa Koleksi Foto yang di Pamerkan
4. Pameran reptil

6. Pengukuhan Kader Konservasi
Penyematan Pin Kepada Anggota  Kader Konservasi Oleh BKSDA Kalsel

Penyematan Pin Kader Konservasi

Penyematan PIN Kader Konservasi oleh perwakilan BKSDA Kalsel

Foto Bersama Penasehat dan Ketua  Biodiversitas Indonesia bersama Dr. H. M. Zaini, M.Pd , Zulkarnain, S.St (BKSDA)
dan Para Kader Konservasi

7. Pengukuhan Sahabat Bekantan
Penyematan Pin Sahabat Bekantan Oleh Prof. Dr. Ir. H. M. Arief Soendjoto, M. Sc
Penasehat Biodiversitas Indonesia
Pengukuhan Sahabat Bekantan
Foto bersama Usai pengukuhan Sahabat Bekantan


8. Seminar HCPSN 2013  "Flora dan Fauna Terpelihara, Manusia Sejahtera"
Pembicara di Seminar Konservasi Keanekaragaman Hayati

Zulkarnain S.St Pembicara dari BKSDA Kalsel

Peserta Seminar Konservasi Keanekargaman Hayati
9. Panitia Even Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2013
Panitia di balik Terselengaranya Even HCPSN 2013