Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 07 Januari 2014

Tim Sahabat Bekantan Pantau "Proboscis Monkey" Pulau Kaget


Sahabat Bekantan - Hari masih pagi Tim Sahabat Bekantan dipimpin oleh Zainuddin Ketua Divisi Konservasi tampak sibuk berkemas. Rupanya mereka sedang mempersiapkan segala keperluan guna pengamatan Bekantan (Nasalis larvatus) di salah satu pulau yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Barito Kuala yaitu Pulau Kaget. 


Pagi itu (Minggu, 05/01/14), mereka bergerak dari sekretariat Biodiversitas Indonesia menggunakan transportasi darat menuju dermaga dimana sebuah kapal motor telah dipersiapkan untuk mengantarkan ke lokasi tujuan.

Tim Observasi
Observasi Tim Sahabat Bekantan di Pulau Kaget
Pengamatan Bekantan

Pulau Kaget adalah sebuah delta yang terletak di tengah-tengah sungai Barito termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Tabunganen, Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Pulau Kaget terletak dekat muara sungai Barito dengan perwakilan tipe ekosistem hutan mangrove dengan berbagai jenis flora seperti rambai (Sonneratia caseolaris), nipah (Nypa fructicans), bakung (Crinum asiaticum), jeruju (Acanthus ilicifolius), dan lain-lain. Selain merupakan kawasan konservasi habitat Bekantan (Nasalis larvatus), Pulau Kageet juga menjadi habitat bagi fauna lain  seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), elang laut perut putih (Heliaetus leucogaster), elang bondol (Haliastur indus), raja udang biru (Halycon chloris), dan lain-lain.
Suaka Margasatwa Pulau Bakut
Pada tahun 1999, pulau ini ditetapkan Sebagai Cagar Alam sesuai  Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 337/Kpts-II/1999 tanggal 24 Mei 1999. Namun sempat mengalami degradasi sehingga dilakukan rehabilitasi kawasan khususnya tanaman Rambai Padi yang menjadi sumber makanan utama Bekantan. Atas pertimbangan tersebut akhirnya Menteri Kehutanan dan Perkebunan mengeluarkan  Surat Keputusan Nomor: 772/Kpts-II/1999 tanggal 27 September 1999  yang mengubah fungi kawasan tersebut dari Cagar Alam menjadi Suaka Margasatwa.

Bekantan (Nasalis larvatus)





Usaha rehabilitasi kawasan tersebut rupanya membuahkan hasil, berdasarkan observasi Tim Sahabat Bekantan setidaknya ditemukan sekitar 6 kelompok bekantan dengan jumlah rata-rata anggota sebanyak 7-15 individu perkelompok. Hasil observasi ini tentunya sebuah kabar gembira, karena sebelum tahun 90-an Pulau Kaget sempat mengalami degradasi kawasan yaitu matinya sebagian besar pohon Rambai padi (Soneratia caseolaris) yang berimbas pada penurunan populasi Bekantan secara drastis. 

Amalia Rezki, Ketua Biodiversitas Indonesia yang juga turut serta dalam kegiatan observasi tersebut mengaku sangat senang. Untuk turut menjaga keberhasilan upaya rehabilitasi kawasan tersebut rencananya Biodiversitas Indonesia akan membentuk tim pantau khusus guna mengikuti perkembangan populasi bekantan di Pulau Kaget sekaligus melakukan sosialiasi konservasi bekantan kepada masyarakat sekitar.

0 komentar:

Posting Komentar